Rabu, 30 Juni 2010

Dentang Kedatangan-Nya


Dentang Kedatangan-NyaTanda pergantian jam biasanya diawali dengan dengan dentangan lonceng. Jika jam menunjukkan pukul 3, maka dentangan lonceng yang terdengar juga akan sebanyak tiga kali. Demikian juga bila waktu menunjukkan pukul 12, maka akan terdengar 12 belas kali dentangan. Namun di desa Worseley, Inggris, jumlah dentangan untuk menunjukkan pukul satu bukanlah sekali melainkan tiga belas kali! Tentu ini tidak lazim. Mengapa? Rupanya beberapa pekerja di sana tetap saja bermalas-malasan untuk kembali bekerja ketika waktu istirahat selesai. Mereka beralasan, bahwa lonceng yang berbunyi satu kali tidak kedengaran. Itu sebabnya untuk memperjelas “ketulian” mereka, dentangan lonceng untuk menunjukkan jam satu dibuat 13 kali!

Barangkali alasan yang sama akan dipakai oleh banyak orang Kristen perihal kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita mungkin akan mengatakan betapa tidak adilnya Tuhan, karena Ia datang tanpa memberitahu lebih dulu. Benarkah Tuhan datang kedua kali tanpa pemberitahuan lebih dulu? Hanya orang bebal yang akan berkata hal itu. Memang Ia tidak memberitahukan kapan tanggal, bulan dan tahun kedatangan-Nya yang kedua kali. Tapi bukankah Ia sudah memberitahukan dengan jelas tanda-tanda mengenai kedatangan-Nya? Bahkan, Ia tidak hanya memberikan satu tanda saja, melainkan begitu banyak tanda dibuat untuk menunjukkan bahwa kedatangan-Nya sudah dekat.

Kitanya saja yang mungkin sudah “ditulikan” oleh dunia ini sehingga kita tidak mendengar suara-Nya. Atau kita mungkin sudah “dibutakan” oleh dunia ini sehingga kita mengabaikan tanda-tanda yang menandai masa akhir jaman. Atau bisa juga kita sudah mati rasa dan kehilangan kepekaan, sehingga serangkaian peristiwa tentang perang, bencana alam yang terjadi dimana-mana, munculnya penyesat-penyesat dan nabi-nabi palsu, atau nubuatan-nubuatan yang sudah ditulis sebelumnya di dalam Alkitab kita anggap seperti angin lalu saja. Tidak menyadari bahwa semua peristiwa itu adalah dentang dan tanda bahwa kedatangan-Nya tak lama lagi.

Untuk menyadari kedatangan-Nya yang kedua kali, tak diperlukan dentang lonceng yang lebih keras, tapi diperlukan telinga yang lebih peka.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts