Kamis, 08 Juli 2010

Bersama Tuhan bersepeda


Amsal 16:19

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Awalnya aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan kedalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk dibelakang, membantu aku mngayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan dan dapat diprediksi. Hal itu tak berlangsung lama. Saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya biasa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘ gila’, Tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!” Aku takut, khawatir dan bertanya, “aku mau dibawa kemana?” Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan aku berkata, “Aku takut!” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan, perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami. Yesus berkata kepadaku agar membagikan semua hadiah kepada semua orang yang membutuhkan. Maka, aku pun melaksanakannya. Aku membagikan hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Semula aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan, tetapi Yesus tahu rahasia menagayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, melompati batu karang yang tinggi, terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama sahabatku yang setia: Yesus kristus. Dan ketika aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata … “mengayulah terus, Aku bersamamu”. [MTimes]


Biarlah Tuhan yang memegang kendali hidupmu, maka jalanmu akan menyenagkan bersama Dia

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts